Modifikasi Crank Shaft Bagian 1

Crank shaft (gbr. 47) berfungsi sebagai penggerak rangkaian piston, cam shaft dan power train. Pada saat motor bakar sudah menghasilkan tenaga, crank shaft akan merubah gerakan piston naik turun (reciprocating motion) menjadi gerakan putar (rotari motion).  Hasil tenaga putar yang diterima crank shaft kemudian diteruskan ke rangkaian power transmition dari kopling hingga roda belakang sepeda motor.
Bagian-bagian Crank Shaft lengkap

Gbr.48. Potongan Crank Shaft

Sebelum melakukan modifikasi, beberapa hal mengenai crank shaft harus diketahui oleh periset sebelum melakukan modifikasi. Akibat kesalahan modifikasi pada crank shaft, maka hasil yang akan diperoleh tidak akan maksimal. Seperti: power out put tidak bertambah, engine bergetar dan lain sebagainya. Ilustrasi crank shaft dalam keadaan terlepas dari crank pin (gbr.48).

Bagian Crank Shat tanpa crank Pin

Gbr.48. Pieces Crank Shaft


Selain fungsi dari crank shaft, yang harus diketahui oleh periset adalah bagian-bagian dari crank shaft dan karakteristik crank shaft. Bagian-bagian crank shaft sepeda motor terdiri dari:  

  • Poros Jalan dan balancer yang dihubungkan dengan gigi rantai timing dan rangkaian magnet  
  • Poros Jalan dan balancer  yang berhubungan dengan rangkaian kopling (clutch system)
  • Poros jalan connecting rod (crank pin) 
  • Dua ball bearing poros jalan kiri dan kanan pada crank case
  • Needle bearing pada poros dudukan connecting rod.

Dari cara kerja dan bagian-bagian crank shaft, beberapa karakteristik atau sifat yang harus dimiliki oleh crank antara lain adalah:

  • Karena crank shaft terdiri dari dua bagian poros, maka kedua poros harus seimbang saat berputar atau pun seimbang berat antara kedua sisinya
  • Poros jalan connecting rod (crank pin) yang menghubungkan kedua poros jalan crank shaft harus tidak bergerak (press fit), sehingga pada putaran tinggi tidak terjadi perubahan posisi pada kedua poros
  • Selurus poros memiliki ketahanan terhadap tekanan  dan temperatur yang tinggi akibat pembakaran dan tenaga dorong yang dihasilkan
  • Bearing yang digunakan adalah high speed bearing, baik kedua ball maupun needle bearingnya.

Setelah mengetahui hal-hal diatas,  perlu tidaknya memodifikasi crank shaft tergantung dari rencana dan tujuan periset dalam pengembangan sepeda motornya. Apabila periset menginginkan power out put yang besar seperti untuk kebutuhan drag race misalnya, maka perlu beberapa modifikasi pada crank shaftnya. Lain halnya dengan road race atau touring, dimana sepeda motor harus tahan pada putaran tinggi dengan waktu yang cukup lama. Pertimbangan tujuan penggunaan sepeda motor tersebut umumnya dijadikan acuan awal dalam memodifikasi crank shaft, dengan detail pekerjaan modifikasi yang disesuaikan dengan komponen-komponen yang berkaitan dengan crank shaft. (selanjutnya)

0 komentar:

Poskan Komentar